Mengenal Psikometri dan Prospek Karirnya




Psikometri atau lebih tepatnya Psikometrika (Psychometrics) merupakan salah satu kajian dalam bidang Psikologi yang mempelajari khusus pada pengukuran aspek-aspek Psikologis. Peranan Psikometri dalam Ilmu Psikologi sebenarnya sangat penting, karena tanpa adanya pengukuran hal-hal yang tak kasat mata seperti proses mental, ilmu Psikologi mungkin hanya dianggap sebagai ilmu khayalan saja. Psikologi dikenal masyarakat berkat adanya tes-tes Psikologi yang mengukur berbagai aspek, seperti kecerdasan, kepribadian, dan minat. Meskipun demikian nyatanya tidak banyak orang Psikologi yang berminat mendalami Psikometri. Mengapa? Karena banyak hitung-hitungan di dalamnya, sesuatu yang ga Psikologi banget.

Sebagai dosen Psikometri, saya menjadi bagian dari sekian makhluk langka di Psikologi. Di tulisan ini saya akan bercerita tentang manis-manisnya saja menjadi makhluk langka tersebut, supaya pembaca sekalian tertarik mendalami bidang ini (pahitnya biar saya simpan sendiri). Sejak masa kuliah S1, saya sering dicari oleh banyak orang. Bukan karena tampan, bukan pula karena memiliki banyak hutang. Kebetulan saat itu saya cukup menguasai analisis data. Mulailah saya menjadi konsultan dadakan. Tradisi itu berlanjut saat kuliah S2 dengan perminatan Psikometrika Terapan, klien saya bertambah banyak, mulai dari mahasiswa S1 sampai S3. Tentu saya senang bisa bermanfaat bagi orang banyak. Tidak semua orang menguasai analisis data dan bisa membantu orang-orang tersebut rasanya menyenangkan. Sampai saya akhirnya menulis tutorial analisis di website SemestaPsikometrika, agar klien yang butuh bantuan tidak harus selalu bertemu saya, namun bisa belajar sendiri dari website (ceritanya sudah mulai kewalahan menghadapi pertanyaan).

Jadi mengapa memilih Psikometri? Ya karena langka dan pasti dibutuhkan, sesimpel itu. Kata orang Ekonomi, jika permintaan tinggi sementara penawaran rendah, maka harga akan naik. Seperti itu juga orang Psikometri, dengan ketersediaan ahli yang sedikit sementara kebutuhannya banyak, mereka akan memiliki nilai jual yang tinggi. Terbukti, dari tujuh orang mahasiswa angkatan saya yang mengambil perminatan Psikometri, lima diantaranya sudah menjadi dosen, sementara dua yang lain menjadi PNS. Kalau ada stereotype bahwa orang Psikometri itu orangnya kaku dan introvert mungkin ada benarnya. Tapi pada akhirnya, si orang kaku dan introvert tadi akan selalu dicari oleh teman-teman yang membutuhkan bantuannya.

Jadi apa sebenarnya yang dipelajari di Psikometri? Secara umum, Psikometri mempelajari bagaimana menbuat instrumen yang dapat digunakan mengukur aspek Psikologi seseorang secara valid dan reliabel. Aspek Psikologi yang diukur sendiri dapat dibedakan menjadi dua, kemampuan (kognitif) dan non-kemampuan. Contoh karya paling terlihat dari orang Psikometri adalah adanya tes inteligensi dan tes kepribadian yang digunakan dalam seleksi sekolah ataupun perusahaan. Psikometri ini spesial, karena dia hendak mengukur sesuatu yang tidak terlihat. Karena setiap pengukuran pasti menghasilkan skor berwujud angka, maka Psikometri sudah pasti tidak bisa dilepaskan dari angka-angka. Namun tenang saja, proses penghitungan sekarang sudah banyak dibantu oleh software. Dan karena sama-sama berhubungan dengan angka, orang Psikometri pasti dianggap menguasai statistika dan metodologi, meskipun sebenarnya secara keilmuan keduanya itu berbeda. Tapi terima sajalah.

Lalu apakah orang lulusan Psikometri hanya bisa bekerja menjadi dosen saja? Tidak, Psikometri memiliki prospek karir yang cukup luas. Di perusahaan besar, biasanya mereka memiliki alat untuk melakukan asesmen sendiri, dan biasanya mereka memperkerjakan orang Psikometri untuk membuat alat itu. Di konsultan Psikologi yang besar juga biasanya mereka memiliki instrumen sendiri, dan orang Psikometrilah yang membuatnya. Sekarang juga sudah banyak perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pengetesan yang menjual alat-alat tes psikologi. Biasanya mereka juga membutuhkan orang Psikometri untuk membuat alat tes untuk dijual tersebut. Di pemerintahan, orang Psikometri juga sangat dibutuhkan, misalnya di Kemendikbud, mereka membutuhkan ahli Psikometri untuk memastikan apakah tes-tes yang digunakan selama ini (misal tes UN, UKG, SNMPTN) sudah valid dan reiiabel. Di kementrian lain yang membutuhkan tes, seperti untuk tes CPNS juga pasti membutuhkan ahli Psikometri. Intinya, dimana ada pengetesan atau asesmen di tempat itu, di situlah orang Psikometri dibutuhkan. Cukup prospektif bukan?  

Tertarik mendalami Psikometri? Kamu setidaknya sekolah S2 dulu supaya keahlianmu diakui. Saran saya kalau mau mendalami Psikometri, belajarlah ke luar negeri, ke Amerika Serikat atau Belanda sana yang kultur Psikometrinya cukup kuat. Belajar ke luar negeri tentu banyak manfaatnya, selain ilmu mereka lebih update, kepakaranmu juga pasti sudah tidak diragukan lagi. Namun kalau mentok ga bisa sekolah ke luar negeri, beberapa kampus di Indonesia juga membuka perminatan Psikometri. Setahu saya ada di UGM, UNPAD, dan UIN Syarif Hidayatullah. Namun ya itu, belajar Psikometri di Indonesia sudah ketinggalan jauh ilmunya.


Perbandingan Hidup di Jogja dan Malang



Ketika baru menikah, saya masih berstatus sebagai mahasiswa dan belum memiliki pekerjaan. Nah berhubung istri sudah hamil tua, jadi fokus utama saya selepas lulus S2 adalah mencari pekerjaan. Saya ga mau lagi ditanya-tanya lagi “kerja apa sekarang” ketika anak saya lahir nanti. Singkat cerita dapatlah saya pekerjaan menjadi dosen di tempat baru, Malang. Tulisan ini berisi pandangan saya mengenai dua kota tersebut, Jogja dan Malang. Sebelumnya saya jelaskan dulu posisi saya, saya tinggal di Jogja selama lebih dari 20 tahun dan tinggal di Malang baru 1 tahun. Segala pandangan subjektif mungkin akan muncul dalam tulisan ini.

Jogja dan Malang merupakan dua kota yang sering disebut kota pelajar karena banyaknya mahasiswa yang berkuliah di kota ini. Hal ini tentu juga karena banyaknya kampus di kedua kota ini. Jogja memiliki Universitas Gadjah Mada sebagai duta kampus negeri, sementara Malang memiliki Universitas Brawijaya. Untuk kampus swasta, Jogja memiliki Universitas Islam Indonesia, sementara Malang memiliki Universitas Muhammadiyah Malang. Kedua kota ini juga bukan merupakan kota besar (jika dibandingkan dengan Jakarta atau Surabaya), namun juga tidak bisa disebut kota kecil. Kedua kota ini memiliki destinasi wisata yang sangat banyak dan bervariasi, mulai dari wisata budaya, wisata edukasi, wisata alam (pantai dan gunung), dan wisata kekinian yang harga tiket masuknya mahal. Harga barang-barang dan makanan di kedua kota ini juga tidak jauh berbeda, ya harga mahasiswa lah. Akses kedua kota ini juga sama-sama mudah, memiliki bandara, stasiun, terminal, dan sudah dijangkau oleh transportasi online. Lebar jalan di kedua kota ini juga hampir sama, sama-sama sempit. Jadi sebenarnya kedua kota ini banyak samanya.

Namun begitu tentu dilihat dari segi kondisi alam dan kehidupan sosial ekonomi, banyak hal yang bisa dibandingkan dari kedua kota ini. Mari kita ulas satu per satu

Kondisi Fisik Malang dan Jogja
Kondisi alam Jogja dan Malang sebenarnya tidak jauh berbeda, sama-sama memiliki pantai dan gunung. Meskipun demikian suhu udara di Jogja dan di Malang cukup berbeda. Malang memang terkenal dengan hawa dinginnya. Bagi orang yang menyukai hawa dingin tentu Malang lebih nyaman ditinggali. Meskipun demikian, cuaca di Malang cenderung lebih gloomy, dan ini kadang berdampak pada mood. Sementara di Jogja lebih cerah dan lebih mudah menemukan sunset bagus di Jogja. Sementara jika dilihat dari tata kota, kedua kota ini juga sama-sama memiliki jalanan yang sempit, meskipun Jogja masih lebih baik dalam aspek ini. Pemukiman di Malang lebih banyak dalam wujud perumahan, sementara di Jogja kampung-kampung non-perumahan masih mendominasi.

Kondisi Sosial Masyarakat
Kata orang, Jogja dan Solo itu adalah orang Jawa yang sebenarnya. Jogja terkenal dengan masyarakatnya yang ramah, penuh tata krama, gaya bicaranya halus, dan banyak basa-basinya. Sementara orang Jawa Timur, terutama Malang, terkenal dengan gaya bicaranya yang kasar dan ceplas-ceplos. Hal itu mungkin ada benarnya, karena sepengamatan saya orang Malang memang jarang menggunakan bahasa Jawa halus dalam percakapan sehari-hari. Tapi stigmanya tidak sampai separah itu kok, banyak orang Malang yang saya temui juga bersikap santun dan lembut. Kedua kota ini juga memiliki bahasa gaul dengan bahasa “walikan” (kebalikan)nya. Namun bahasa walikan di Jogja didasarkan atas rumus aksara Jawa, sementara bahasa walikan di Malang berdasar aksara latin. Misal nih, kalau kata “Mas” di Jogja akan berubah menjadi “Dab”, sementara di Malang kata “Mas” akan berubah menjadi “Sam”. Buat apa? Ya biar terlihat gaul dan kreatif saja. 

Gaya hidup orang Jogja dan Malang juga tidak jauh berbeda, meskipun dalam hal ke-selow-an, Jogja jauh lebih selow. Contohnya dalam bekerja, puncak kemacetan di Jogja itu biasanya terjadi jam 7.00 pagi dan jam 17.00 sore, sementara di Malang puncak kemacetan itu jam 6.30 pagi dan jam 18.00. Tahu kan maksudnya? Orang Jogja juga lebih selow soal tata kota, makanya angkringan dan pedagang kaki lima ada dimana-mana, misalnya di alun-alun kota. Biarpun kotor, jorok, semrawut ya gapapa, yang penting semua happy dan kenyang. Sementara kalau di Malang sedikit lebih tertata, makanya ga boleh ada pedagang di alun-alun kota. Ya meskipun bagus, rapi, dan bersih, tapi kalau ga bawa makanan sendiri ya kelaparan.

Harga Barang dan Jasa
Harga barang dan jasa di kedua kota ini juga tidak jauh berbeda. Misal untuk makanan jadi, dengan harga 15 ribu itu sudah makan enak lengkap dengan minumannya. Tapi kalau mau dibandingkan per komponen sepertinya Jogja lebih murah. Misal nih, harga es teh di Jogja itu rata-rata 2rb, sementara di Malang harganya rata-rata 3rb. Tapi kalau mau beli bahan makanan mentah, harga di Malang jauuuh lebih murah, terutama sayur dan buah. Ya jelas, karena di Malang lebih dekat dengan produsennya. Soal harga jasa ga ada beda.

Bagaimana dengan harga tanah dan rumah? Keduanya sama-sama muahaaal. Tapi Malang sih masih lebih mendingan dalam hal ini, dalam radius 15KM dari pusat kota masih masih bisa mencari tanah seharga 1,5 jt/m. Sementara kalau di Jogja dengan radius yang sama, harganya sudah di atas 2 jt/m semua. Apalagi kalau dilihat besaran UMK Jogja dan Malang. Tahun 2020 ini UMK Jogja sebesar 1,8jt, sementara Malang 2,8jt. Itu tentu masalah besar bagi orang asli Jogja. Namun sepertinya pemangku kepentingan di Jogja tidak pernah menganggap itu sebagai masalah sehingga kondisi ini dibiarkan begitu saja. Jogja memang bikin rindu, makanya orang yang sudah minum airnya Jogja akan selalu memiliki keinginan untuk tinggal di Jogja. Akibatnya apa? Ya hukum ekonomi berlaku, permintaan tinggi, pewaran terbatas, maka harga naik. Dan yang bisa beli tanah dan rumah di Jogja adalah orang-orang dari kota besar, sementara orang Jogja asli yang bekerja di Jogja hanya bisa ngontrak dan lambat laun akan tergusur. Apalagi Sultan yang lima tahun lalu mengatakan tidak akan pernah dibangun jalan tol di Jogja, sekarang sudah berubah dan akan menggusur banyak warganya untuk pembangunan jalan tol. Maka, tunggulah 15 tahun lagi, Jogja akan kehilangan keistimewaannya.    




Sumber Penghasilan Sampingan Dosen

Bukan rahasia lagi, gaji dosen tidak bisa dikatakan tinggi, meskipun ini variabelnya juga banyak, tergantung status PNS atau Non-PNS. Dosen non-PNS juga tergantung dimana dia ngajar, kalau kampus elit, gajinya bisa jauh lebih tinggi dari gaji dosen PNS. Tapi kalau dipukul rata, mempertimbangkan jumlah dosen swatsa yang ngajar di kampus biasa-biasa saja, maka dapat dikatakan gaji dosen itu jauh lebih kecil dibanding karyawan di perusahaan. Sebagai gambaran, gaji saya di semester pertama ngajar itu jauh lebih kecil dibanding uang bulanan yang saya terima dari beasiswa LPDP untuk yang kuliah di Yogyakarta. Jadi bisa dibayangkan, betapa menyesalnya saya lulus S2 saat itu dan memilih bekerja sebagai dosen. Eh, bercanda.

Nah, meskipun bisa dibilang kecil, tapi penghasilan dosen itu tidak semata-mata dari gaji dan tunjangan yang diterima dari kampus saja lho. Justru Sebagian besar malah di luar itu. Apa saja sumber penghasilan sampingan dosen itu? Berikut beberapa di antaranya

Sertifikasi Dosen

Bagi dosen yang sudah memenuhi kualifikasi tertentu, misal masa kerja minimal 2 tahun dan sudah memiliki jabatan fungsional, dosen dapat mengajukan sertifikasi dosen. Dosen yang sudah tersertifikasi ini akan mendapat tambahan penghasilan per bulannya sebesar gaji pokok golongannya. Hal ini berlaku untuk dosen non-PNS. Meskipun gaji pokoknya di bawah standar PNS, tapi tunjangan sertifikasi yang diterima akan disetarakan dengan tunjangan yang diterima PNS. Sebagai gambaran saja, untuk PNS golongan III-B (biasanya dosen muda lulusan S2), mereka akan mendapat tunjangan 2,5 juta per bulan.

Dana Penelitian

Dana penelitian dosen itu jumlahnya lumayan besar. Sebagai contoh, saya sebagai dosen pemula masa kerja kurang dari dua tahun dan belum memiliki jabatan fungsional, bisa mengajukan penelitian yang dana penelitiannya sebesar 15 juta. Ini adalah penelitian untuk tingkat universitas, jadi dananya dari universitas. Untuk penelitian dari Dikti juga ada, dan dananya lebih tinggi. Semakin tinggi jabatan fungsional kita dan gelar kita, maka peluang untuk mendapat dana penelitian yang besar juga semakin besar. Jadi kalau sudah sekelas professor, dana penelitian 100 juta/tahun itu tidak mustahil. Sebagian dari dana penelitian tersebut digunakan untuk operasional dan untuk honor peneliti. Kalau ada sisa, biasanya kalau dari universitas, dana itu dianggap sebagai efisiensi dan boleh digunakan peneliti. Tapi kalau dana berasal dari pemerintah, biasanya kita diminta mengembalikan sisanya.

Menjadi Pembicara Seminar atau Tim Ahli

Dosen dikenal masyarakat karena memiliki keahlian tertentu. Keahlian ini terkadang dibutuhkan oleh masyarakat umum, perusahaan, atau instansi pemerintahan. Dengan keahlian tersebut, dosen sering diminta untuk menjadi pembicara dalam seminar, workshop, atau pelatihan-pelatihan. Tentu saja, ini menjadi penghasilan tambahan dosen tersebut. Bayarannya juga juga tergantung bagaimana kualifikasi seorang dosen tersebut dan kemampuan instansi pengundang. Selain itu dosen juga bisa menjadi tim ahli di suatu perusahaan atau instansi pemerintahan. Contohnya, saya yang menekuni bidang Psikometrika beberapa kali diminta Kemendikbud untuk mengevaluasi alat ukur yang mereka gunakan untuk melakukan asesmen kepada para siswa atau guru. Bayaran menjadi tim ahli ini biasanya jauh lebih besar dari gaji pokok dosen sebulan. Selain menjadi penghasilan tambahan, menjadi pembicara atau tim ahli juga menjadi nilai kredit sendiri bagi dosen dalam bidang pengabdian.

Menjadi Panitia di Kampus

Kegiatan dosen jangan dibayangkan hanya berurusan dengan mengajar dan meneliti. Dosen juga sering berurusan dengan hal-hal yang bersifat teknis administratif denga menjadi panitia di acara-acara dalam acara-acara di kampus. Misal dalam acara wisuda mahasiswa, dosen biasanya juga dilibatkan menjadi panitia. Meskipun melelahkan, tetapi menjadi panitia ini juga menghadirkan penghasilan tambahan bagi dosen yang jumlahnya kadang juga lumayan.

Terlibat dalam Project Kampus

Universitas biasanya memiliki sumber pemasukan lain di samping dari SPP mahasiswa. Mereka biasanya memiliki unit bisnis yang menyediakan layanan barang atau jasa untuk dijual kepada masyarakat umum. Dosen biasanya juga dilibatkan dalam mengelola unit bisnis tersebut. Misalnya, di Fakultas Psikologi biasanya memiliki Pusat Layanan Psikologi yang menyediakan jasa asesmen psikologi, konsultasi, training, dan intervensi Psikologi. Kliennya bervariasi, mulai dari individu hingga instansi perusahaan, sekolah, atau pemerintahan. Dosen-dosen biasanya dilibatkan dalam project yang sedang ditangani oleh unit bisnis tersebut, dan sebagai konsekuensinya mereka juga mendapat imbalan tambahan atau kerja ekstranya tersebut.

Menulis Buku

Menulis buku bagi dosen memiliki manfaat ganda, selain menambah kredit untuk mengurus jabatan fungsional, juga menghasilkan pemasukan tambahan. Pemasukan tambahan sendiri sifatnya bisa langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, penulis biasanya akan menerima royalty dari penerbit atas penjualan buku mereka. Secara tidak langsung, menulis buku akan membuat dosen dikenal masyarakat dan dampaknya peluang mereka untuk diundang sebagai pembicara akan semakin besar. Tentu saja ini juga menjadi sumber penghasilan sendiri.

Menulis Blog dan Menjadi Youtuber

Di era kuliah online sekarang ini, menulis blog dan menjadi Youtuber juga memiliki manfaat ganda. Selain mempermudah mahasiswa dalam mengakses materi perkuliahan, menulis blog dan menjadi Youtuber juga berpotensi menambah penghasilan dosen. Dengan pengikut setia berupa mahasiswa yang mereka ajar, dosen tidak akan kesulitan untuk mencari pembaca blognya atau penonton Youtubenya. Memiliki blog dan channel youtube yang dikelola dengan baik dapat menghasilkan pemasukan tambahan dari Google. Misalnya saya saat ini memiliki blog berkaitan dengan Psikometrika, Statistika, dan Metode Penelitian di www.semestapsikometrika.com, dan blog tersebut menghasilkan tambahan penghasilan setidaknya 300 ribu per bulannya. Channel Youtube saya “Semesta Psikometrika” juga sedang berkembang dan berjuang untuk bisa dimonetisasi. Jika blog dan Youtube tersebut bisa diterima dengan baik oleh masyarakat, bukan tidak mungkin penghasilan dari Blog dan Youtube bisa mengalahkan gaji pokok menjadi dosen itu sendiri.

Jadi itu tadi beberapa sumber penghasilan tambahan sebagai seorang dosen. Meskipun kelihatannya gajinya kecil, tapi kalau semua potensi kita maksimalkan, maka tetap akan sejahtera kok. Tapi Kembali lagi ke dosennya, mau mengembangkan diri atau hanya menjadi dosen yang hanya mengajar di kelas saja. Kalau maunya hanya mengajar di kelas saja, ya diterima saja gaji yang seadanya tersebut. Tapi di balik semua peluang tersebut, ada PR komitmen pada tugas utama yang tidak boleh diabaikan. Jangan sampai terlalu mengejar project atau menjadi pembicara di luar kampus sampai melalaikan kebutuhan mahasiswa kita sendiri.  

Rasanya menjadi Dosen di Perguruan Tinggi Swasta Muhammadiyah



Banyak orang mengatakan bahwa menjadi dosen itu kerjaannya sak dos, gajinya sak sen (kerjaannya banyak tapi gajinya sedikit). Apalagi kalau kamu menjadi dosen di kampus swasta berbasis agama, kamu akan dituntut untuk ikhlas menerima. Pernyataan tersebut bisa jadi benar, tapi bisa jadi salah. Mari saya ceritakan pengalaman saya menjadi dosen di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jawa Timur, sebut saja UMM.

Saat pertama kali wawancara dengan pimpinan Fakultas, Pak Dekan saat itu tidak mewawancarai apakah saya kompeten atau tidak. Beliau justru ingin menguji keyakinan saya untuk bekerja di UMM. Satu pesan dari KH Ahmad Dahlan yang beliau kutip saat itu adalah "hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah". Dan benar saja, pertama kali saya menerima gaji, saya cukup terkejut mendapati fakta bahwa gaji yang saya terima masih di bawah UMR kota Malang (silakan diperkirakan sendiri nominalnya). Padahal kondisinya saat itu seluruh uang tabungan saya habis untuk pindahan kontrakan dari Jogja ke Malang dan istri saya juga hamil tua. Bulan-bulan awal bekerja menjadi dosen di UMM tidaklah mudah. Apalagi sejak hari pertama bekerja, kami para dosen muda tidak diperlakukan selayaknya dosen baru yang butuh waktu untuk belajar, kami langsung diberi tanggung jawab besar dengan beban mengajar banyak, kepanitiaan, atau tugas-tugas tambahan sesuai bidang kami. Sebagai seorang kepala keluarga, tentu aku berpikir bagaimana memberi nafkah yang layak bagi keluargaku. Untungnya, di tengah kesulitannya beradaptasi di lingkungan baru, istri saya selalu memberikan dukungan yang luar biasa, hingga sampai saat ini saya masih bertahan. Setelah bisa melewati masa-masa sulit tersebut, saya akan memberikan pandangan saya terkait rasanya menjadi dosen PTS, khususnya di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).

Setiap PTS pasti memiliki alasan khusus mengapa mereka didirikan, selain misi umum untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Ada yang alasannya murni mengejar profit, ada pula yang ingin menyebarkan ajaran tertentu. Hal inilah yang membedakan PTS dengan PTN. Jadi begini, bekerja di PTS itu artinya kamu bekerja untuk menyukseskan misi dari Yayasan yang menaungi PTS kamu. Dan itu yang saya rasakan selama bekerja di UMM ini, ada gairah tersendiri untuk mencapai misi tersebut. Apalagi PTS harus bisa menghidupi dirinya sendiri karena mereka tidak dibiayai pemerintah. Kalau kamu tidak bekerja, ya kamu ga akan bisa bertahan hidup. Hal ini tentu berbeda dengan bekerja di PTN yang bisa lebih “selow” karena jalan hidupnya sudah ditentukan pemerintah dan kehidupannya dijamin pemerintah.

UMM sendiri merupakan salah satu universitas swasta yang merupakan amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan. Berbicara tentang Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) ini spesial karena Muhammadiyah menjadikan PTM ini sebagai amal usaha, yang artinya seluruh PTM adalah sarana berdakwah sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sehingga selalu ditanamkan kepada setiap orang yang bekerja di UMM, bahwa bekerja adalah ibadah, harus ditunaikan dengan tanggung jawab sebagai amanah dan diterima dengan ikhlas. Yang saya rasakan sendiri, bekerja di UMM ini selalu ada gairah kebaruan dengan intensitas kerja yang tinggi setiap harinya, namun juga tidak melupakan sisi-sisi kemanusiaan dan spiritualitas. 

Di titik ini, saya dapat mengatakan bahwa bekerja di PTM memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki dengan bekerja di tempat lain. Nama Muhammadiyah pasti tidak bisa terlepas dari citra agama Islam. Bekerja di PTM itu artinya kita bekerja sebagai agen dari agama Islam. Jika kerja kita baik, baik pula citra agama kita, namun sebaliknya jika kerja kita jelek, jelek pula citra agama kita. Hal ini juga membawa konsekuensi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat bahwa apapun yang kita lakukan akan berdampak pada citra institusi, Muhammadiyah, dan agama Islam. Tapi setidaknya kita tahu bahwa kita bekerja untuk sesuatu hal yang benar. Bekerja di PTM juga membawa gairah tersendiri untuk selalu bekerja dan berkarya dengan sungguh-sungguh karena keberlangsungan hidup kita ada di tangan kita sendiri. Apalagi bekerja bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kepentingan orang banyak cukup membuat hati merasa tentram. Bekerja di PTM juga tidak pernah membuat saya merasa kekurangan materi, meskipun juga tidak berlebihan. Dan itu cukup membuat hati merasa tenang.

Dan jika berbicara tentang kesejahteraan menjadi dosen di PTM, tentu kembali lagi pada diri kita. Tadi saya bercerita bahwa gaji pertama saya masih di bawah UMR, syukurlah sekarang kondisinya semakin membaik, setelah saya mengurus Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN). Gaji dosen itu sangat dinamis, dan justru penghasilan terbesarnya ada pada variabel-variabel di luar gaji pokok itu. Sebagai gambaran, variabel-variabel itu diantaranya adalah honor kelebihan beban mengajar, menjadi panitia, menyusun modul dan RPS, membimbing/menguji skripsi, dan mengikuti suatu project. Seiring dengan peningkatan jabatan akademik, gaji yang kita peroleh juga akan bertambah. Ada juga insentif-insentif yang diberikat kampus bagi karya-karya dosen, baik itu artikel jurnal, buku, keikutsertaan dalam konferensi internasional, atau HKI. Tentu saja kalau menjadi dosen hanya mengajar, gaji yang diperoleh tidak banyak. Jadi sudah selayaknya dosen harus aktif.

Bagaimana jika dibandingkan dengan dosen PTN? Sekali lagi, semua kembali pada dosen masing-masing, mau bekerja dan berkarya sejauh apa. Berlian tetaplah berlian, dia akan tetap indah dimanapun dia berada. Pemerintah memberikan hak dan kewajiban yang sama pada kedua status dosen ini. Semuanya wajib menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dosen swasta wajib memiliki NIDN, dosen swasta juga wajib mengajukan kepangkatan setara dengan dosen PNS. Pemerintah juga memberikan kesempatan yang setara bagi dosen PTN dan PTS, misal untuk memperoleh dana penelitian, beasiswa, insentif publikasi jurnal internasional bereputasi, serta tunjangan sertifikasi dosen. Jadi bagi saya, menjadi dosen itu adalah profesi yang paling adil. Kalau kamu produkif kamu dapat banyak, tapi kalau kamu tidak berkarya, ya kamu hanya memperoleh sedikit. Profesi ini juga profesi yang seimbang antara perolehan finansial dan kesempatan mengembangkan diri.