Mengapa Saya Masih Menulis di Blog Saat Semua Orang Sudah Membuat Vlog

Ada masa ketika saya dikelilingi oleh teman-teman yang memiliki blog semua, entah itu di blogspot, wordpress, ataupun tumblr. Dulu blog merupakah suatu hal yang mewah dan bergengsi. Orang yang menulis adalah orang yang keren dan unik, yang bisa mempertontonkan kemampuan olah katanya, di samping unjuk gigi atas pengetahuan yang mereka miliki. Organisasi tempat saya bermain dulu (Palapsi) juga sangat mendorong kami untuk menuliskan cerita ataupun refleksi dari perjalanan di alam yang kami lakukan. Mapala memang unik, dari luar mereka nampak garang dan sederhana, tapi dalam tulisannya, mereka bisa menjadi orang yang puitis, melankolis, dan kritis. Menulis di blog juga berjasa membuat saya akhirnya mengakhiri masa 20 tahun menjomblo. Tapi masa-masa kejayaan dunia tulis menulis di blog ini nampaknya sudah lewat. Sekarang orang lebih senang mengenal orang lain bukan lewat tulisan, tapi lewat video. Kalaupun ada, paling hanya tulisan di status di Twitter yang panjangnya tidak seberapa.

Saya kemarin iseng melakukan survey di status Instagram, intinya menanyakan “Ketika Kamu hendak mencari informasi atau inspirasi, kamu lebih senang mencari kemana?” pilihannya dua, blog atau Youtube. Dari sekitar 100 follower saya yang ikut menjawab, 81% mengatakan mereka lebih suka melihat YouTube. Mereka mengatakan alasannya karena lebih menarik dan lebih jelas. Jaman memang sudah berubah, orang sekarang lebih suka menonton daripada membaca. Dulu mungkin orang-orang banyak terinspirasi oleh tulisan Soe Hok Gie, tapi sekarang orang lebih terinspirasi oleh sosok Atta Halilintar. Tapi terlepas dari apapun medianya, pada dasarnya menulis di blog ataupun membuat video di YouTube memiliki kesamaan yaitu ingin menunjukkan eksistensi, menunjukkan pada dunia “inilah aku”.

Tapi seiring berjalannya waktu, pada akhirnya memang orang akan lebih berpikir pragmatis daripada idealis. Semua perilaku kita akan banyak ditentukan oleh pasar. Itu juga yang dilakukan pembuat konten, mereka lebih sering menampilkan diri yang disukai oleh masyarakat agar populer, demi mendapat keuntungan dari iklan atau endorse. Hanya karena memiliki banyak follower di medsos, tidak serta merta seseorang bisa disebut sebagai influencer. Banyak yang menyebut mereka sebagai influencer meskipun banyak dari mereka yang sebenarnya influenced. Mereka tidak mempengaruhi orang lain, tapi sebaliknya orang lain lah yang mempengaruhi mereka dan membuat mereka menampilkan sosok tidak otentik agar disukai orang lain. Apalagi jika karya mereka hanya titipan.

Di titik ini saya akhirnya lebih memilih kembali menulis di blog untuk menyampaikan isi di kepala saya. Ada beberapa hal yang membuat saya lebih memilih menulis. Pertama, saya memang tidak pede tampil di depan kamera. Kedua, saya lebih bebas mengungkapkan ide di kepala saya melalui tulisan, pun lebih mudah merevisinya kelak jika ternyata saya keliru. Ketiga, informasi dari sebuah tulisan lebih mudah discaning daripada video. Kan kalau video kita sulit melihat di menit berapa informasi penting yang sedang dicari itu ada. Terakhir, saya merasa lebih merdeka. Kata Tan Malaka, “idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”. Mungkin saya sudah tidak seidealis dulu, pun sudah luntur jiwa pemuda saya. Tapi semoga tulisan-tulisan saya tetap membawa informasi dan inspirasi bagi orang banyak.

The Next Level of Our Marriage

Saya dan Yuni sudah menikah hampir tiga tahun, dan selama itu pula kami selalu bersama. Dia selalu menemani setiap fase perjuangan dalam hidup saya. Saya menikahinya dalam keadaan saya bukanlah siapa-siapa. Saat itu saya hanya mahasiswa S2 semester 3. Saya tidak memiliki pekerjaan dan hanya mengandalkan uang beasiswa sebagai penopang hidup kami. Dia bukan pacar saya, tapi saya mengenalnya sebagai teman baik saya. Saya mengenalnya sebagai orang yang ceria dan sederhana, dan entah mengapa saya yakin hari-hari penuh perjuangan saya nanti akan lebih tenang jika dilalui bersamanya. Suatu hari, saya menyatakan ingin menikahinya. Dia tidak mengiyakan, tapi juga tidak menolak. Dia hanya ingin saya berbicara langsung kepada orang tuanya, sayapun memberanikan diri mendatangi kedua orang tuanya di Sarolangun, Jambi.

Singkat cerita (meskipun sebenarnya sangat berliku), saya akhirnya mendapat restu dari orang tua saya dan orang tua Yuni untuk menikah. Sayapun menguras seluruh tabungan yang saya kumpulkan dari dua tahun bekerja di Sulawesi dan Jakarta untuk menikahinya. Saat itu tabungan saya benar-benar habis, hanya tersisa untuk mengontrak sebuah rumah sederhana beserta perabotannya. Kami memulai semuanya dari nol. Setelah satu bulan menikah, Yuni hamil, kami sangat bahagia. Kehamilannya tidak mudah, empat bulan pertama dia sering mual-muntah hingga berat badannya turun derastis. Sangat menderita melihat dia menderita, apalagi kami memiliki tanggungan menyelesaikan tesis kami. Selama empat bulan, dia hampir tidak menyentuh tesisnya sama sekali. Syukurlah kami bisa melewati fase sulit ini dan bulan-bulan berikutnya, kami merasakan betapa indahnya pernikahan kami. Kemana-mana selalu berdua, mengerjakan tesis bersama, ambil data bersama, dan saling menyemangati untuk menyelesaikan tesis kami. Hingga akhirnya kami bisa menyelesaikan tanggung jawab kami dan wisuda bersama, di usia kandungannya yang ke-7 bulan.   

Wisuda tentu menyenangkan, tetapi berarti juga membuat masalah baru bagi saya. Saya sudah kehilangan status mahasiswa saya, kehilangan beasiswa saya, dan menyandang status pengangguran. Untung saat itu saya masih mendapat beberapa project di Fakultas Psikologi UGM, sehingga kami masih bisa bertahan. Idealisme membatasi saya saat itu karena saya hanya mau menjadi dosen, sementara lowongan dosen tidak banyak saat itu. Saat itu saya sedang proses seleksi di UMS, tinggal satu tahap lagi, sampai akhirnya ada tawaran untuk menjadi dosen di UMM. Saya tidak berpikir untung-rugi di antara kedua pilihan yang ada saat itu, saya hanya berpikir mana yang memberi saya kepastian terlebih dahulu, itulah yang saya pilih. Saya sudah cukup muak ditanya petugas KUA ketika akan menikah, “Masnya pekerjaannya apa?”, dan saya tidak mau ketika anakku lahir status saya masih tidak jelas. Di UMM saya ditawari menjadi dosen Luar Biasa (LB) dan berkesempatan diikutkan seleksi untuk menjadi dosen DPK, sementara di UMS saya belum tahu kapan proses seleksi lanjutan akan dilaksanakan. Sayapun akhirnya memilih pindah ke Malang dengan kondisi Yuni mengandung 8 bulan. Kami tidak memiliki saudara atau teman sama sekali di Malang, tetapi begitu kami sampai, kami serasa ditolong oleh banyak orang sampai akhirnya Zidan terlahir ke dunia.

Selanjutnya, kami menjalani hari-hari yang menyenangkan sebagaimana sebuah keluarga kecil yang normal. Tinggal bersama, membesarkan anak bersama, memiliki status dan rutinitas sebagaimana rumah tangga normal lainnya. Kami bukan tidak pernah bertengkar, ngambek-ngambekan (seringnya dia sih yang ngambek), dan berbeda pendapat; tapi pada akhirnya kami bisa menyelesaikannya. Kami berbagi mimpi bersama, bagaimana nanti kita akan membangun rumah, bagaimana karir kita nantinya, kapan kita akan berangkat haji bersama, bagaimana kita membesarkan anak kita. Saya bukanlah orang yang romantis yang sering memberi surprise atau hadiah, tapi dia juga bukan orang yang suka menuntut. Kami belum memiliki rumah, mobil, dan standar materi keluarga ideal lainnya. Gaji bulanan yang saya terima juga tidak besar, dan dengan gaji ini tidak terbayang kapan bisa terkumpul untuk membangun rumah kita sendiri. Namun dalam kesederhanaan, saya merasa hidup bersamanya dan satu anak kami adalah sesuatu yang sempurna.  

Sampai akhirnya, di tahun kedua kami tinggal di Malang, saya memustukan untuk meninggalkannya. Saya mendapat beasiswa untuk sekolah S3 di Eropa, namun tidak memungkinkan untuk mengajaknya pergi bersama saat ini. Beasiswa ini bukanlah beasiswa yang memberikan keuntungan finansial yang banyak, hanya dapat dikatakan cukup. Akhirnya Yuni dan Zidan kembali ke Jogja dan saya berangkat ke Hungaria. Dan untuk kali pertama dalam kehidupan pernikahan kami, kami menjalani Long Distance Relationship (LDR). Saya sendiri punya pengalaman tidak enak dengan LDR, saya mengakhiri hubungan dengan satu-satunya mantan pacar dalam hidup saya salah satunya dipicu karena LDR. Tapi LDR dalam pernikahan jelas berbeda. Di antara aspek-aspek cinta yang lain seperti keintiman dan gairah, aspek komitmen menjadi satu pembeda utamanya. Komitmen membawa banyak gerbong diantaranya yaity tanggung jawab, dan membuang gerbong lainnya yaitu drama. Dan di sinilah kita sekarang, pada level lanjutan dalam pernikahan kita.

Kami sudah diuji dengan kesederhanaan, dan sekarang kami diuji dengan jarak. Di saat dia membutuhkan saya untuk mengasuh anak bersama, dan di saat saya membutuhkan dia untuk menemani masa-masa sulit beradaptasi tinggal di Eropa, kami tidak saling hadir secara fisik. Keputusan untuk lanjut sekolah ke Eropa adalah keputusan bersama, demi mimpi bersama. Dan selama mimpi itu masih menjadi mimpi bersama, kami akan bertahan, lebih kuat lagi. Jadi LDR ini adalah misi untuk menguji komitmen dan tanggung jawab kami bersama dalam menggapai mimpi bersama. Bukankah kebahagiaan hanya akan nyata jika dibagikan, jadi buat apa mengejar kebahagiaan sendiri. Jarak sudah memberi banyak pelajaran tentang ruang rindu, ruang sendiri, dan sepi. Tapi seperti kata sebuah lagu, kita hanya akan rindu matahari saat turun salju, hanya akan membenci jalanan saat rindu rumah, dan hanya akan tahu betapa kita mencitai orang saat kita berpisah dengannya. Dan malam ini saya merindukannya, sangat merindukannya. Yuni Kartika dan Ahmad Zidan Baraka, semoga semesta segera mempersatukan kita bertiga.

Dan tunggulah aku di sana

Memecahkan celengan rinduku

Berboncengan denganmu mengelilingi kota

Menikmati surya perlahan menghilang

Celengan rindu – Fiersa Besari

Barang yang Harus Dibawa Saat Akan Sekolah ke Luar Negeri (Eropa)


Paspor, nyawa kita ketika ke luar negeri

Pergi ke luar negeri, khususnya ke Eropa artinya pergi ke tempat baru yang jauh dan mungkin sangat berbeda kondisinya dengan di asal negara kita. Bisa beda bahasa, budaya, sistem, kebiasaan, atau makanan sehari-hari. Oleh karena itu persiapan untuk pindahan ke Eropa harus lebih matang dibanding biasanya. Kenapa? Karena ga semuanya bisa dengan mudah bisa kita beli saat di Eropa. Kita juga ga bisa semudah mengirim barang dari Indonesia ke Eropa karena pasti mahal. Tulisan ini akan berisi daftar barang yang wajib dibawa jika kita akan pergi ke luar negeri, khususnya ke Eropa. Oiya, ke luar negeri yang dibahas dalam tulisan ini lebih spesifik untuk jangka waktu yang lama ya, misal sekolah, bukan liburan. Jadi memang benar-benar dibutuhkan dalam jangka waktu lama. Berikut daftarnya.

Paspor dan Visa

Paspor ini seperti nyawa kita saat di luar negeri, apapun urusannya pasti butuh paspor. Mau check ini pesawat, beli kartu SIM handphone, check in hotel / penginapan, mau beli tiket, mau urusan administrasi apapun pasti butuh menunjukkan paspor. Jadi dibaik-baikin itu paspor, jangan sampai dia pergi. Sedangkan visa itu udah nempel sama paspor, jadi kalau paspornya ilang, visanya juga ilang, artinya izin buat masuk ke negara lain juga ilang.

Dokumen perjalanan dan dokumen penting lainnya

Dokumen perjalanan ini meliputi tiket pesawat, bookingan penginapan, dan asuransi perjalanan. Bawa juga Letter of Acceptance (LoA) dari kampus tujuan kita, serta Letter of Award kalau kita penerima beasiswa. Meskipun sudah zaman digital, tapi tak ada salahnya kita sudah mencetak semuanya. Untuk pesawat, ada baiknya kalau sudah check-in online sebelumnya, jadi bisa mempersingkat waktu saat check-in di bandara. Dokumen pribadi juga lebih baik dibawa seperti KTP, SIM, KK, Akte lahir, buku nikah, NPWP, pas foto (bawa yang banyak). Bawa juga dokumen-dokumen penting yang dibutuhkan sesuai tujuan kita. Misal kalau kita mau sekolah, biasanya saat enrolment universitas meminta kita menunjukkan ijazah dan transkirp jenjang sebelumnya. Beberapa universitas mungkin meminta hal lain seperti surat keterangan sehat, IELTS/TOEFL, surat penyataan blablabla. Pokoknya ngikut saja apa yang disyaratkan universitas. Semua dokumen diusahakan sudah dicopy dan discan.

Travel adaptor dan Extension

Travel adaptor ini penting kalau ternyata model colokan di negara tujuan kita tidak sama dengan model colokan di Indonesia. Kalaupun ternyata sama, bawa universal travel adaptor juga ga ada ruginya, siapa tahu nanti mau jalan-jalan ke negara tetangga kan. Sedangkan extension ini wajib, mengantisipasi jika di tempat tinggal kita colokannya terbatas.

Smartphone dan Laptop beserta chargernya

Namaya sudah smartphone, jadi digunakannya dengan smart juga ya. Di negara baru, kita pasti buta arah dan belum terlalu menguasai bahasa local. Google Maps dan Google Translate adalah sahabat kita di negara baru tersebut. Pastikan sudah bisa cara mengoperasikan dua aplikasi ini sebelum berangkat, pelajari fitur-fiturnya. HP juga bisa berfungsi sebagai kamera untuk mengabadikan momen dan spot keren di Eropa, jadi sekalian beli HP yang bagus deh. Kalau sadar baterei HPnya suka ngedrop, bawa powerbank juga. Kalau pertama datang, manfaatkan wifi bandara. Ada baiknya segera membeli SIM card begitu nyampe agar bisa segera dipakai internetnya. Sedangkan laptop, ya pasti butuh lah, namanya juga mahasiswa.

Uang tunai dan Kartu Debit/Kredit

Meskipun di negara maju pembayaran bisa dilakukan dengan kartu, tapi uang tunai penting banget. Ga semua tempat menerima pembayaran dengan kartu. Pastikan sudah menukarkan uang Rupiah kita ke mata uang lokal negara tujuan. Kalau ga ada, tukarkan dengan mata uang yang universal, misal USD atau Euro, sehingga nanti kita bisa tukarkan saat sampai bandara negara tujuan. Kartu ATM juga perlu, jadi pas datang bisa ambil uang local di ATM. Pastikan ke banknya bahwa kartu ATM ini bisa dipakai di luar negeri. Untuk transaksi internasional kartu Jenius punya BTPN ini recommended banget, bisa berperan sebagai kartu kredit meskipun dia adalah kartu debit.

Tas/ransel kecil beserta printilannya

Pastikan bawa tas yang bisa kita gunakan untuk membawa dokumen-dokumen penting kita, seperti paspor, ijazah, dll. Jangan lupa sediakan semua peralatan tulis juga di dalam tas, seperti pulpen dan notes karena pasti butuh untuk mengisi form. Untuk kebutuhan perjalanan, sediakan juga di dalam tas hand sanitizer, masker, dan tisu basah. Selama minggu-minggu awal, kita akan butuh mengurus beberapa hal administratif, seperti mengurus residence permit, membuat student card, dll. Pastikan kita punya tas yang muat untuk membawa semua dokumen tadi, tapi tetap efisien tempat, sehingga nyaman kalau dipakai berdesak-desakan di kendaraan umum.

Alat mandi

Bawa sabun, shampoo, sikat gigi, pasta gigi, dan handuk. Ini juga penting, daripada harus beli, mahal. Kalau bawa yang ukuran besar, jangan lupa barang-barang ini ditaruhnya di bagasi, soalnya kalau bagasi kabin kan ga boleh ada cairan lebih dari 100ml. Untuk kepentingan perjalanan, biasanya di pesawat kita dikasih kok sikat gigi, pasta gigi, dan tisu basah, jadi aman.

Skincare dan make up

Jangan dianggap skin care ini hanya untuk cewek ya, buat cowok juga penting. Di Eropa itu cuacanya berbeda dengan di Indonesia, dingin tapi kering. Kita butuh banget pakai pelembab kulit/lotion, lip balm, dan Conditioner supaya kulit, bibir, dan rambut kita ga kering. Parfum dan deodorant juga penting tuh biar ga bau. Kalau make up sih sesuai kebutuhan masing-masing aja.

Baju, Jaket, dan celana dalam

Baju, jaket, dan celana dalam bawa seperlunya saja, gausah terlalu banyak. Kenapa? Karena bahannya belum tentu nyaman dipakai di negara tujuan. Kita bisa beli lagi nanti ketika sudah sampai, terutama jaket untuk musim dingin, karena kalau beli di Indonesia biasanya ga mempan. Beli second juga ga masalah kok, baju second di sini bagus-bagus dan murah kok. Bawa kemeja gausah banyak-banyak, orang Eropa suka nyantai, kuliahnya pakai kaos aja. Untuk baju, bawa baju flannel agaknya cukup membantu dalam berbagai situasi, formal atau santai, panas atau dingin. Bawa juga pakaian tradisional kita, misal batik. Khusus yang berhijab, mungkin stok jilbab bisa diperbanyak karena susah beli di Eropa.

Peralatan sholat

Ini penting banget dibawa dari Indonesia karena di Eropa sulit dicari. Untuk sajadah, usahakan membawa dua, satu yang agak tebal untuk stay di tempat tinggal, dan satu yang tipis yang bisa dibawa kemana-mana. Soalnya nyari masjid juga susah, jadi butuh fleksibilitas nyari tempat untuk sholat. Di musim Covid ini juga masjid biasanya tidak menyediakan karpet, jadi sajadah harus bawa sendiri. Untuk perempuan, mukena juga jangan cuma bawa satu.

Payung lipat atau Raincoat

Hujan itu ga mengenal negara, semua pasti kebagian. Karena di Eropa kita pasti akan lebih banyak jalan karena memakan transport public, jadi payung atau raincoat wajib dibawa karena kalau belinya di Eropa mahal.

Botol minum

Udara di Eropa ini kering tapi dingin, jadi kadang kita ga merasa haus tapi sebenarnya sudah dehidrasi, Jadi harus sering-sering minum. Karena membeli air mineral cukup mahal, jadi lebih baik bawa botol minum sendiri kalau pergi kemana-mana. Di sini air tap/keran bisa langsung diminum, jadi ga susah nyari isi ulang airnya.

Tas belanja/Kantong plastik

Ketika kita belanja ke supermarket, biasanya mereka tidak menyediakan kantong secara gratis. Jadi ada baiknya kita bawa tas sendiri jika akan belanja. Tas/kantong plastik ini juga pasti kepake banget lah untuk banyak hal, misal menaruh pakaian kotor, tempat sampah, dll.

Sepatu, sendal dan kaos kaki

Bawa sepatu dan sendal juga seperlunya saja. Usahakan sepatu atau sandal ini yang nyaman dipakai untuk jalan karena di Eropa kita pasti akan lebih banyak berjalan kaki dibanding biasanya.

Obat pribadi

Ini jika ada penyakit tertentu lebih baik disiapkan obatnya dari Indonesia. Tapi secara general bawa paracetamol, obat diare, balsem, minyak telon, dan betadine sudah cukup sebagai langkah preventif. Pembelian obat di Eropa tidak bisa sebebas di Indonesia. Misal obat antibiotik sama sekali tidak bisa dibeli tanpa resep dokter.

Bumbu masak dan makanan instan

Space koper lebih baik dipakai untuk keperluan logistik makanan ini, terutama bagi mereka yang memang tidak bisa lepas dari bumbu Indonesia. Banyak hal-hal yang sulit ditemukan di sini, seperti kecap manis atau sambal pedas. Jadi sediakan stok yang cukup untuk bertahan hidup di Eropa sambal menyesuaikan diri dengan makanan lokal. Jika space kita banyak, bisa bawa makanan instan juga dari Indonesia, seperti mie, abon, kering tempe, bon cabe, bawang goreng, selai, atau makanan kaleng.

Peralatan masak dan makan

Tapi ga perlu bawa panci dan penggorengan juga ya. Peralatan masak ini yang memang spesifik dari Indonesia dan bakal butuh banget, misal rice cooker. Rice cooker di Eropa lebih mahal dan susah nyarinya, jadi kalau memang ada space lebih di bagasinya, bisa bawa rice cooker dari Indonesia. Kalau ga muat ya beli di sini aja. Bawa juga piring, mangkok, gelas, sendok, garpu, dan kotak bekal makan. Piring, mangkok, dan gelas usahakan yang microwave friendly, karena orang Eropa banyak menggunakan microwave. Kotak bekal makan juga perlu kalau mau berhemat atau sekedar memastikan kita makan makanan halal.

Printilan

Printilan ini sifatnya kecil tapi sangat berguna. Yang masuk daftar printilan ini diantaranya adalah:

  • Karet gelang, buat ngaretin makanan yang udah kebuka, buat ikat rambut
  • Peniti, darurat kalau ada pakaian sobek, buat buka SIM card HP
  • Gunting, ya buat nggunting, apapun
  • Pemotong kuku, ya buat motong kuku
  • Pisau cukur, buat yang bulunya lebat
  • Sisir, biar rambut tetap rapi
  • Paper clip, ya buat jepit kertas
  • Dompet kartu, lumayan berguna karena di Eropa kita hidup dengan banyak kartu (student card, monthly pass, kartu akses masuk kampus/dorm/apartemen, residence permit)

Lain-lain

Yang lain-lain ini sifatnya opsional, mau bawa ya hayuk, enggak juga gapapa, nanti bisa beli. Harganya ga beda jauh dengan di Indonesia kok. Yang masuk kategori lain-lain di antaranya adalah sprei, semir sepatu, hanger, seterika, map, sticky notes, staples.

Menjadi Mahasiswa PhD di Hungaria: Kesan Pertama


Sudah satu bulan saya tinggal di Budapest untuk melanjutkan studi PhD saya di kota ini. Saya mengambil kuliah di Doctoral School of Psychology di Eotvos Lorand University (ELTE) pada program Cognitive Psychology. Tulisan ini akan bercerita tentang kehidupan seorang PhD student di Hungaria. Tentu saja, setiap orang mengalami hal yang berbeda, dan tulisan ini adalah subjektif dari pandangan saya saat ini, jadi jangan digeneralisir dan bisa jadi pandangan ini juga akan berubah seiring berjalannya waktu.

Hungaria sepertinya memang masih belum menjadi tujuan favorit mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan kuliah. Baru tiga tahun belakangan ini beasiswa dari Hungaria mulai terdengar namanya, itupun selalu kuotanya tidak terisi penuh. Selain masalah bahasa dan tradisi, rangking universitas di Hungaria juga mungkin jadi pertimbangan. Rangking universitas di Hungaria memang tidak terlalu tinggi, kampus favorit di sini hanya nangkring di peringkat 500-an dunia. Tapi jika dilihat per bidang studi, banyak bidang studi tertentu yang peringkatkan masuk 100 besar dunia. Seperti kampus saya, ELTE, secara universitas rangking versi QS setara dengan Unair. Tapi jika dilihat bidang Psikologi, rangkingnya jauh di atas kampus di Indonesia, yaitu 200. Soal rangking ini juga balik lagi versi siapa sih, kalau versi THE atau CWUR rangkingnya jauh di atas universitas di Indonesia.

Sistem perkuliahan di Hungaria untuk jenjang PhD ini sedikit berbeda dengan negara-negara lainnya di Eropa. Di Belanda, Jerman, Swedia, atau Norway mahasiswa PhD biasanya dianggap sebagai pekerja yang pekerjaan utama adalah meneliti, Jadi mereka tidak wajib ikut kuliah di kelas. Tapi di Hungaria mirip seperti di Amerika atau Indonesia, kita masih diwajibkan mengikuti perkuliahan di kelas selama empat semester. Tapi di empat semester awal ini kita juga sudah harus memulai riset kita, setidaknya untuk mematangkan proposal disertasi kita. Jadi dua tahun ini kerjanya saling tumpeng tindih, kuliah dan penelitian. Di akhir semester empat kita ada complex exam, ini semacam ujian komprehensif untuk menentukan apakah kita layak untuk lanjut ke tahap berikutnya atau tidak. Jika lolos, kita baru bisa disebut PhD candidate, jika tidak, sorry to say perjalanan PhD kita berakhir.

Saya kuliah dengan beasiswa Stipendium Hungaricum, jadi jatah kita hanya empat tahun. Sayangnya berdasarkan cerita senior, sampai saat ini sangat sedikit mahasiswa yang bisa lulus dalam waktu empat tahun. Tapi ini tergantung dari kampus. Di ELTE untuk bisa mendaftar ujian disertasi, kita diwajibkan memiliki minimal tiga publikasi di jurnal (yang semuanya terindeks Scopus atau WoS) yang harus sesuai dengan topik disertasi kita, dan dua dari tiga publikasi itu haruslah empirical research. Publikasi ini juga harus dikutip dalam disertasi. Tentu saja syarat ini yang menjadi penghambat karena proses publikasi di jurnal top ini memakan waktu cukup panjang, bisa lebih dari setahun.

Perkuliah untuk mahasiswa PhD ini tidak seintensif mahasiswa master. Semester ini saya hanya mengambil tiga mata kuliah, namun tiap mata kuliah bobotnya 7 ETCS. Namun kuliah tatap muka (online/offline) rata-rata dilaksanakan hanya dua minggu sekali. Sisanya kita lebih banyak diberikan project seperti merivew jurnal, mengkritisi disertasi, atau menulis artikel. Tiap perkuliahan diisi dengan presentasi mahasiswa secara bergantian. Jadi kalau dilihat-lihat mahasiswa PhD ini jauh lebih longgar waktunya dibanding mahasiswa master. Jadwal kuliah juga sangat fleksibel, tergantung professor yang mengajar. Jadi kuliah PhD ini sangat tidak terstruktur, dan di situlah kadang jebakannya, kalau kita terlena bisa-bisa terbawa suasana santai.

Untuk perkuliahan sendiri lebih santai. Professor di sini sangat humble, lebih dekat dengan mahasiswa dan tidak memposisikan diri sebagai dewa. Suasana perkuliahan juga santai, dengan pakaian yang santai, lokasi yang santai (pernah saya kuliah di cafe), dan lebih banyak diskusi dibanding mendengarkan dosen ceramah. Tapi soal standar etika tetap harus dijaga, misal jika berhalangan hadir tetap harus memberi kabar ke dosen pengampu. Soal kehadiran ini memang tergantung dosennya, ada yang membebaskan asalkan seluruh tugas dikerjakan, tapi ada juga yang strict harus hadir minimal 80%. Tapi secara umum karena kita sudah PhD, kita harus lebih proaktif dalam belajar.

Untuk pembimbingan, saya beruntung memiliki supervisor yang masih cukup muda dan sangat cerdas (meskipun beberapa kali sangat jadi tidak paham apa yang sedang dia bicarakan saking pinternya). Dia lulusan Cambrigde, jadi saya sering merasa tidak PD  dengan aksen Indonesian English saya kalau dibanding Bristish aksennya (yang terdengar seperti orang berkumur-kumur bagi saya). Tapi dia tidak pernah menyinggung masalah ini kok. Seperti tipikal dosen lainnya, dia sangat humble, misal ketika janjian dia tahu akan terlambat, dia mengabari saya duluan. Begitu pula ketika saya sudah selesai bimbingan, dia mengantar saya sampai ke depan pintu ruangan. Ini sederhana sih, tapi baru kali ini saya diperlakukan seperti ini. Dia masih baru di ELTE, baru dua tahun ini dia pindah ke sini, jadi dia juga masih belum terlalu paham sistem dan administrasi. Selain itu dia tidak mengajar, hanya sebagai research fellow. Jadi kehidupan perkuliahan dan penelitian saya ini sangat terpisah. Kuliah ya kuliah, penelitian ya penelitian. Kuliah dengan dosen yang mengajar, penelitian dengan supervisor.        

Overall, perjalanan PhD ini sepertinya masih sangat panjang. Seperti yang selalui Kristof (supervisor saya) katakan, “Kamu punya waktu empat tahun di sini, gausah buru-buru, jalani satu demi satu tahapannya”. Benar, perjalanan PhD ini mungkin bukanlah perjalanan yang bisa dipandu dengan Google Map, yang tahap demi tahapnya sudah jelas. Perjalanan ini lebih seperti perjalanan memecahkan teka-teki. Ketika kamu berhasil memecahkan satu teka-teki, maka pintu lain akan terbuka dan kamu harus memecahkan teka-teki berikutnya, sampai akhirnya semua pertanyaan terjawab. Makanya dia selalu menyuruh saya tidak terburu-buru merancang desain penelitian. Lupakan dulu research plan yang kemarin digunakan untuk mendaftar, mulai dari preliminary study dulu, baru akan muncul pertanyaan-pertanyaan penelitian lain yang harus kamu jawab.


Kesan Pertama Datang Melihat Budapest

Berfoto di Fisherman’s Bastion

Budapest, kota yang indah, katanya, merupakan ibu kota negara Hungaria. Kota ini berada di jantung benua Eropa, terbagi atas dua wilayah Buda dan Pest yang dipisahkan oleh sungai Danube. Bukan tujuan favorit orang untuk melanjutkan kuliah, tapi pada akhirnya saya sekarang terdampar di sini dan akan menghabiskan waktu empat tahun ke depan membersamai perjalanan PhD saya. Sayangnya, saya mengawali perkenalan dengan Budapest dengan dengan cara yang berbeda, dikarantina 14 hari di kamar dormitory. Saya datang ke Hungaria tanggal 2 September 2020, tepat satu hari sejak pemerintah Hungaria mengubah kebijakan menjadi wajib karantina bagi orang yang baru datang dari luar negeri. Saya menghabiskan waktu karantina bersama dua teman dari Indonesia.

Saya mulai cerita ini dari kedatangan saya di Hungaria. Sebagai kota di Eropa dan katanya menjadi tujuan banyak turis, bandara kota Budapest benar-benar di luar dugaan saya. Bandara Budapest ini jauh lebih kecil kalau dibandingkan dengan bandara di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Medan, atau Makasar. Tapi hal ini wajar karena arus penerbangan di bandara ini tidak sepadat bandara di Indonesia karena tidak ada penerbangan domestik di sini. Kami di jemput oleh teman-teman PPI dan di antar ke tempat tinggal kami masing-masing. Saya pergi ke dormitory naik bus. Harga tiket bus satuan di sini sangat mahal, kalau dikonversi ke Rupiah sekitar 15 ribu untuk sekali jalan, dan bisa dibeli langsung di mesin tiket. Tapi kalau kita membeli paketan bulanan, harganya jauh lebih murah, apalagi untuk pelajar. Dalam perjalanan ke dormitory inilah saya mulai melihat Budapest dengan ketidaksempurnaannya. Masih banyak vandalism, banyak sampah, banyak bangunan kosong terbengkalai, ada pengemis, dan banyak ketidaksempurnaan lainnya. Hanya sebatas inilah saya melihat kondisi Budapest, karena sisanya saya harus menjalani karantina. Untung selama karantina kami bisa membeli logistik secara online, jadi kebutuhan kami tetap terpenuhi.

Budapest Eye

Selepas 14 hari menjalani karantina, saya boleh keluar. Hal pertama yang saya lakukan adalah membeli SIM card Handphone dan membeli tiket transportasi bulanan. Dua hal ini adalah kebutuhan pokok karena selama minggu-minggu awal ini saya butuh mengurus administrasi seperti mengambil residence permit, membuat student card, membuat nomer pajak, membuka rekening bank, mengurus asuransi, dll. Selama masih baru, Google Map merupakan sahabat utama saya yang sangat membantu menentukan arah dan tujuan perjalanan saya. Satu hal yang paling saya kagumi dari Budapest adalah sistem transportasinya yang rapi. Ada beberapa mode transportasi di sini, ada Bus, Trolley Bus, Metro, Tram, dan Kereta Suburban. Dengan membeli tiket bulanan, kita bisa naik semua moda transportasi ini sepuasnya. Semuanya ontime, nyaman, dan terintegrasi dengan sangat baik.  

Dalam hal pelayanan publik, orang-orang di sini sangat kooperatif dan helpful. Prinsipnya percaya dan kalau bisa dimudahkan, mengapa dipersulit. Misalkan ketika kita lupa mengcopy satu dokumen yang seharusnya dicopy, mereka akan membantu melakukannya. Tidak seperti di Indonesia, biasanya kita disuruh pulang lagi untuk mengcopynya, ga peduli antriannya seberapa panjang. Ini yang sepertinya pembeda utama dengan di Indonesia. Meskipun demikian, ada pegawai di kantor pelayanan publik tidak bisa Bahasa Inggris. Secara sistem juga saya pikir ada banyak hal yang bisa disederhanakan birokrasinya.

Terima kasih kepada Kartu Jenius (bukan promosi ya), karena banyak membantu selama saya masih belum punya mata uang local di sini. Mata uang resmi Hungaria adalah Forint, dan tidak ada yang menjual uang Forint ini di Indonesia. Dengan Jenius semuanya lebih mudah karena tinggal tap saja, tanpa perlu mikir banyak hal. Potongan konversi Rupiah ke Forint juga tidak terlalu besar, lebih kecil daripada kita menukar uang di Moneychanger. Kita juga bisa ambil uang tunai Forint di ATM dengan kartu Jenius ini.

Mengenai tata kota, landmark Budapest ini merupakan kota klasik. Jadi bangunan-bangunan di sini mayoritas bangunan klasik, yang sudah tua, namun masih terawat dengan baik. Jarang sekali ada bangungan dengan model arsitektur modern, apalagi Gedung pencakar langit karena memang regulasi pemerintah saat ini melarang pembangunan gedung yang lebih tinggi dari 96 m. Tempat wisata di sini juga banyak wisata sejarah yang menampilkan bangunan kuno eksotis khas Eropa. Beberapa tempat wisata yang terkenal di kota ini adalah Gedung Parlemen, Fisherman’s Bastion, Buda Castle, Heroes Square, City Park, Saint Stephen Basilika, dll. Semuanya nampak lebih indah jika dilihat saat malam hari. Wisata alam di kota ini tidak banyak, paling kita bisa melihat kota dari ketinggian dengan berkunjung ke Citadela.  

St. Stephen’s Basilica

Orang-orang di sini individualis dan sangat menjunjung tinggi privasi, namun mereka juga helpful. Sebagian besar generasi tua tidak bisa berbahasa Inggris, dan banyak lansia yang tinggal di sisi Buda. Cuaca di sini juga unpredictable. Meskipun sekarang baru mau masuk musim gugur, tapi suhunya sudah cukup dingin, rata-rata sekitar 11-16 derajat celcius. Rasanya sulit menceritakan semua di sini. Mungkin lain kali saya buat videonya saja supaya lebih terbayangkan. Di lain waktu saya juga akan bercerita tentang kesan pertama kuliah dan bertemu supervisor.