Cerita Lahirnya Semesta Psikometrika

Tulisan ini akan menarik jauh ke belakang tentang lahirnya Semesta Psikometrika dan bagaimana “wadah belajar” ini akan dikembangkan di masa depan. Tulisan ini diperuntukkan bagi pembaca/penonton Semesta Psikometrika dan semua orang yang memiliki kepentingan untuk mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan, terutama di bidang Psikometrika. Bagi yang belum tahu apa itu Semesta Psikometrika, saya beri gambaran singkat terlebih dahulu.

Semesta Psikometrika merupakan kanal pengetahuan tempat berbagi mengenai ilmu Psikometri. Namun tidak terbatas pada ilmu Psikometri saja, di Semesta Psikometrika dibahas juga mengenai Statistika, Metode Penelitian Kuantitatif, dan Psikologi secara umum. Semesta Psikometrika hadir di dua platform berbeda, yakni melalui website semestapsikometrika.com dan Youtube Channel. Saat ini website Semesta Psikometrika sudah dibaca lebih dari 6.000 kali per hari dan memiliki lebih dari 12.000 subscriber di Youtube. Saat ini saya masih menjadi pengelola tunggal kedua platform tersebut.

Jika ditarik jauh mundur ke belakang, sebenarnya Psikometri bukanlah bidang yang ingin saya tekuni. Selepas mengelesaikan tugas saya menjadi Pengajar Muda di daerah terpencil, saya mendapat kesempatan bekerja di perusahaan startup di ibu kota sebagai staf rekrutmen. Saat itu juga saya apply beasiswa LPDP untuk lanjut kuliah S2 di UI. Awalnya semua berjalan sesuai rencana, saya mendapat beasiswanya dan saya diterima di program magister psikologi terapan dengan perminatan intervensi sosial, bidang yang in-line dengan pengalaman saya sebagai guru dan fasilitator pendidikan di daerah terpencil. Masalah muncul ketika saya hendak daftar ulang, ternyata program yang saya tuju tidak ada di list LPDP, dan saya diminta untuk mencari program/universitas lain. Di waktu yang mepet itu, hanya UGM lah yang masih membuka pendaftaran, dan akhirnya dengan berat hati saya harus meninggalkan pekerjaan saya di Jakarta dan pulanglah saya ke Jogja.

Saya memilih Psikometrika Terapan sebagai perminatan saya, sebenarnya karena pilihan lainnya kurang menarik bagi saya. Tapi pulang ke UGM membawa banyak berkah bagi saya, bisa dekat dengan keluarga, bertemu teman lama, mendapat jodoh, hingga bisa melahirkan Semesta Psikometrika ini. Entah bagaimana di UGM saya memiliki reputasi yang baik soal analisis data, hingga banyak orang yang bertanya ke saya soal analisis data. “Klien” saya bervariasi, mulai dari mahasiswa S1, rekan S2, sampai mahasiswa S3 juga banyak. Saya tidak membuka jasa analisis data, karena bagi saya membuat orang paham itu lebih memberi kepuasan batin dibanding mendapat upah atas jasa analisis. Namun dari waktu ke waktu, “klien” saya terus bertambah, sementara tugas pribadi saya juga banyak. Akhirnya munculah ide membuat website Semesta Psikometrika, dengan harapan dapat menjangkau orang lebih banyak dan meringankan beban saya mengajari orang-orang. Jika ada pertanyaan, saya tinggal berikan link tutorialnya saja. Kemudian ide membuat youtube Semesta Psikometrika juga sama, karena hal-hal yang sifatnya teknis lebih mudah dijelaskan dengan video.  

Saat ini banyak respon positif mengenai kehadiran Semesta Psikometrika yang banyak membantu mahasiswa menyelesaikan tugas akhirnya. Adanya Semesta Psikometrika juga sebenarnya menambah pemasukan saya karena baik di website maupun di Youtube sudah dipasangi iklan, ya meskipun tidak seberapa. Namun kesibukan saya pribadi menghambat Semesta Psikometrika untuk tumbuh menjadi lebih besar lagi. Sudah lama sekali saya tidak update konten di website maupun di Youtube. Padahal request untuk membuat konten baru sesuai kebutuhan pembaca ataupun subscriber Youtube selalu muncul.

Sebenarnya sudah sering saya mengajak orang lain untuk turut membesarkan Semesta Psikometrika. Namun sampai saat ini responnya masih negatif. Kebanyakan dari mereka merasa kurang memiliki kepercayaan diri atas kompetensi mereka di bidang yang katanya menyeramkan bagi mahasiswa Psikologi ini.  Sebagian lainnya menolak karena merasa Psikometri adalah ilmu yang bisa dijual mahal, sehingga sayang kalau hanya dibagikan cuma-cuma di internet tanpa mendapat pemasukan finansial yang berarti. Padahal jika dikembangkan lebih serius, Semesta Psikometrika bisa jadi media, platform, bahkan unit usaha yang menjanjikan sekaligus membawa kebermanfaatan bagi banyak orang. Dengan minimnya literasi tentang analisis data serta mahalnya pelatihan-pelatihan yang ada selama ini, maka Semesta Psikometrika bisa menjadi wadah untuk belajar yang mudah diakses, murah, fleksibel dan lengkap.

Dengan jiwa entrepreneur yang rendah, saya merasa bahwa saya butuh orang yang mampu membuat Semesta Psikometrika ini lebih besar. Jadi bagi siapapun yang membaca tulisan ini, yang memiliki minat pada bidang yang berkaitan dengan Psikometri, saya sangat menunggu kalian untuk berkolaborasi.  Semangat berbagi ini juga saya rasakan manfaatnya saat ini sebagai mahasiswa PhD. Di Eropa, banyak sekali ilmuwan yang membuka akses ilmu secara gratis, entah itu berupa artikel, slide PPT, tutorial, manual book, atau sharing di grup diskusi online. Prinsipnya, ilmu, meskipun dibagikan secara gratis, tidak akan mengurangi pemasukan kita, justru akan menambah peluang kita mendapatkan hal baru. Setidaknya menyumbang satu artikel di Semesta Psikometrika sudah bisa menambah portfolio kalian sebagai sarana personal branding, selain juga artikel itu bisa dimanfaatkan oleh orang banyak. Kontak saya tersedia di website ini kalau mau berkolaborasi.

Nonton Euro Tanpa Masker, Memangnya Hungria Sudah Bebas Covid?

Suasana Nonton EURO di Puskas Ferenc Stadium, Budapest

Saat orang Indonesia menyaksikan ribuan supporter sepak bola di Eropa bisa berkumpul di stadion secara bebas tanpa masker, justru kasus Covid di Indonesia sedang meningkat derastis. Dan rekreasi yang cukup menarik bagi saya adalah membaca komentar netizen Indonesia. Muncul beberapa suara dari netizen Indonesia, setidaknya bisa saya klasifikasikan menjadi tiga tipe. Tipe pertama adalah tipe teori konspirasi. Mereka umumnya bilang, “Tuh kan Covid itu ga ada. Tuh lihat di Eropa, orang udah berkumpul tanpa masker. Di Indonesia aja yang Covidnya ga selesai-selesai karena masih jadi lahan bisnis”. Tipe kedua adalah tipe neurotis. Mereka umumnya bilang, “Iih orang Eropa ini sudah gila ya. Mereka berkumpul gitu tanpa masker. Apa mereka ga memikirkan keluarga dan tetangga mereka. Kalau begini, kapan Covid akan berakhir”.Tipe ketiga adalah tipe optimis. Mereka umumnya bilang, “Tuh di Eropa situasi Covid sudah terkendali. Kalau kita tertib seperti mereka, kondisi Covid di Indonesia juga pasti akan membaik”.Nah saya jelaskan dulu beberapa fakta seputar EURO di Budapest yang saya tahu. Pertama, Euro 2020 ini unik karena dilaksanakan di banyak negara. Dari sekian lokasi, hanya di Budapest saja yang berani membuka stadion dengan kapasitas penuh. Di negara lain masih dibatasi, maksimal 50% dari kapasitas stadion. Alasannya beragam, mulai dari alasan ekonomi, nasionalisme, sampai alasan olah raga. 

Khusus Hungaria, saya bisa memahami Euforia yang cukup besar, ditambah pemerintahnya yang konservatif nasional. Hungaria ini memiliki sejarah bagus di sepak bola. Beberapa kali menjadi runner-up piala dunia dan memiliki legenda terkenal, Puskas Ferenc. Namun dalam 30 tahun terakhir ini Hungaria seolah tenggelam tidak pernah ikut kejuaraan besar, dan baru kali ini berpartisipasi lagi di ajang bergengsi seperti EURO. Jadi bisa dipahami jika euforianya sangat tinggi, apalagi Hungaria tergabung di grup maut bersama Prancis, Portugal, dan Jerman.Kedua, pada titik seperti di Indonesia saat ini (9% warga divaksin), pembatasan di Hungaria saat itu masih sangat ketat. Jam malam dibatasi sampai jam 20.00, masker wajib di semua tempat, restoran tidak boleh makan di tempat, bahkan sempat semua toko ditutup, selain groceries store dan apotek. Jadi pada titik 9% warga di vaksin, di Hungaria itu masih seperti lockdown. Saat ini, di Hungaria sudah 55% warganya sudah divaksin, sehingga mulai diberikan pelonggaran.Ketiga, untuk menonton EURO juga tidak semua orang bisa masuk stadion. Hanya orang yang sudah divaksin atau yang bisa menunjukkan hasil PCR negatif saja yang boleh masuk. Aturannya juga selama pertandingan, supporter harus tetap mengenakan masker. Sudah diworo-woro terus lewat pengumuman, tapi ya banyak yang ngeyel. Tapi memang memakai masker sekarang ini di Hungaria itu menderita sekali. Sekarang lagi musim panas, suhunya ekstrem panas, lebih panas dari Jakarta deh, suwer. Jadi saya pikir penyelenggara juga bukan tanpa perhitungan.

Nah ketiga fakta ini sudah bisa membantah orang-orang tipe teori konspirasi lah ya. Covid ada, dan peristiwa di EURO ini tidak bisa dijadikan pembenaran kalau Covid sudah tidak ada. Menjawab pertanyaan tipe neurotis, “Kok bisa berkumpul banyak gitu tanpa masker? Kalau di Indonesia panitianya sudah dipenjara ini”. Mungkin Anda ada benarnya, tapi jangan dikira panitia dan para supporter ini tidak memikirkan resiko menonton tanpa masker. Dengan asumsi yang boleh masuk adalah orang-orang bersih, seharusnya sudah aman, terlebih aturan terbaru pemerintah Hungaria juga mencabut kewajiban memakai masker. Mungkin ada baiknya jika mereka juga melihat susahnya proses dulu, tidak hanya melihat enaknya hasil akhir sekarang. Saat ini, di Hungaria sudah 55% warganya sudah divaksin, dan tren kasus Covid semakin menurun. Secara bertahap pelonggaran diberikan. Pelonggaran dimulai dari menghapus jam malam, lalu membolehkan berkumpul dalam jumlah kecil di outdoor, lalu membolehkan melepas masker saat outdoor, lalu membolehkan makan di restoran outdoor, lalu membolehkan makan di restoran indoor bagi yang sudah divaksin. Pada akhirnya berita hari ini mengabarkan pemerintah akan mencabut kewajiban memakai masker secara total di semua tempat. Pelonggaran demi pelonggaran diberikan dengan patokan jumlah kasus dan jumlah warga yang sudah divaksin. Kenapa patokannya jumlah warga yang divaksin? Memangnya kalau sudah divaksin sudah pasti aman? Ya setidaknya itulah yang diyakini pemerintah sini, tentunya berdasarkan hasil riset dan pendapat ahli, bukan pendapat influencer. Semakin banyak warga divaksin, tentu semakin cepat tercapai herd immunity. Di Hungaria, vaksin China juga dipakai, selain vaksin Western (Pfizer, Moderna, Astra Zaneca, dkk). Banyak juga yang meragukan vaksin China di sini, terlebih vaksin ini belum disapprove Uni Eropa (karena alasan medis maupun politis). Tapi toh vaksin ini juga sudah diapprove oleh WHO.Pembatasan di Hungaria ini kontrolnya beneran ketat. Instruksi terpusat dari pemerintah. Informasi mengenai pembatasan atau pelonggaran terdistribusi baik dan tegas, tidak multitafsir. Banyak aturan, sedikit himbauan, jadi kalau boleh ya boleh, kalau enggak ya enggak. Kalau jalan-jalan ke tempat wisata, sedih karena banyak toko yang dijual/disewakan karena tidak mampu beroperasi. Sekarang warga di sini sedang menikmati hidup normal setelah sekian lama “dipenjara”. Kalau berkaca pada kasus tahun lalu, kasus tahun ini mungkin juga mirip. Pada musim panas (bulan Juni-Agustus), jumlah kasus menurun dan warga hidup normal. Tapi pada bulan September kasus naik, dan lockdown lagi. Bukan tidak mungkin pola ini juga akan terjadi tahun ini. Tapi kalau September nanti tidak terjadi peningkatan kasus (semoga), say thanks to vaccine. Tidak ada alasan lagi untuk meragukan vaksin.


Mengurus Visa Reunifikasi Keluarga ke Hungaria


Akhirnya saya sekarang sudah berkumpul kembali bersama anak dan istri di Hungaria. Rasanya sudah sedikit lebih tenang, meskipun itu berarti saya juga harus menyesuaikan Kembali ritme hidup yang sudah tertata sebelumnya. Tulisan ini akan bercerita tentang proses pengurusan visa untuk keluarga, serta hal-hal apa saja yang harus disiapkan untuk reunifikasi keluarga di Hungaria. Tulisan yang bercerita tentang mengurus visa bagi awardee dapat dilihat di sini ya

Tanggal 29 Maret kemarin, akhirnya istri dan anak saya resmi mendarat di Budapest, Hungaria, dan akan tinggal Bersama saya di sini selama masa studi saya. Proses pengurusan visa ke sini untuk istri dan anak sebenarnya tidak terlalu ribet, tapi karena ada masalah dengan akte lahir istri saya, makanya prosesnya jadi sedikit lebih lama. Kami mulai menyiapkan dokumen visa ini sejak Januari 2021 dan baru resmi memperoleh visanya pada awal Maret 2021. Nah dokumen apa saja yang harus disiapkan? Berikut saya berikan check listnya.

NoNama DokumenCeklis
1Form Application Residence Permit (untuk anak dan istri/spouse) 
2Form lampiran family reunifikasi (form ini diisi nama kita, karena merupakan appendix application residence permit istri/spouse) 
3Pas foto standar visa schengen 
4Kartu Keluarga (KK) 
5Akte Kelahiran kita dan keluarga (asli dan legalisir dari kementerian) 
6Buku nikah (asli dan legalisir dari kementerian) 
7Certificate of employment (bagi yang bekerja) 
8Bank reference 
9Paspor (Disiapkan copyannya) 
10Letter of Award dan Letter of Admission 
11Kontrak flat/apartment 
12Landlord statement (menyatakan bahwa memberi izin kepada keluarga kita untuk tinggal di flat yang disewa) 
13Invitation Letter (ini inisiatif buat sendiri aja, tidak ada format khusus) 
14Asuransi (saya pakai Sinarmas yang bisa dibeli di Traveloka) 
15Itinerary (booking tiket keluarga dari CGK-BUD) 
16Buat jaga-jaga, bawa ijazah istri aja beserta copyannya, klo dibutuhkan penyesuaian data 

Nah bagaimana proses mengurus dokumennya? Berikut saya jelaskan detailnya. Informasi resmi sebenarnya bisa dibaca di halaman ini http://www.oif.gov.hu/index.php?option=com_k2&view=item&layout=item&id=54&Itemid=808&lang=en. Termasuk untuk form nomer 1 dan 2 pada checklist, bisa didownload di halaman tersebut. Untuk form nomer 1 diisi dengan identitas istri dan anak kita, sementara untuk form lampiran nomer 2 diisi dengan identitas kita sebagai pihak yang mengundang.

Langkah pertama tentu melengkapi form aplikasi nomer 1 dan 2. Selain itu yang butuh waktu lama adalah menyiapkan dokumen akta lahir, kartu keluarga, dan buku nikah yang dilegalisir oleh kemenlu. Sayangnya Kemenlu hanya mau melegalisir jika dokumen tersebut sudah dilegalisir oleh kementrian yang menerbitkan. Untuk akte dan KK kita minta legalisir terlebih dahulu ke Kemenkumham, sementara buku nikah dilegalisir ke kemenag. Kemarin untungnya ada kenalan yang bekerja di Kemenkumham, jadi bisa dimintain tolong sekalian untuk mengurus proses legalisir sampai ke kemenlu. Untuk seluruh dokumen istri dan anak (rangkap 3) kemarin menghabiskan biaya sekitar 2 juta Rupiah. Tapi ini masih mending lah, daripada harus ngurus sendiri ke Jakarta bolak-balik.

Proses legalisir ini yang memakan waktu cukup lama kemarin. Apalagi akte lahir istri bermasalah (ada bagian yang ditulis tangan oleh Capil), jadi dari Kemenkumhan tidak mau melegalisir. Terpaksa harus mengurus pembetulan akte ini, padahal yang menerbitkan aktenya dari Jambi, dan istri sekarang tinggal di Jogja. Tapi akhirnya setelah dilempar kesana-kemari masalah terselesaikan. Kalau semua dokumen sudah OK, maksimal 2 minggu lah kita sudah selesai legalisir dokumen.

Kemudian certificate of employee ini juga dibutuhkan, terutama jika masih bekerja. Karena saya masih tercatat sebagai dosen di UMM, jadi saya mintakan surat ke Pak Dekan, sekaligus keterangan bahwa saya masih memperoleh gaji pokok saya karena status saya adalah tugas belajar. Dokumen ini cukup penting, karena pihak imigrasi Hungaria tentu akan memperhitungkan apakah kita mampu menanggung biaya hidup anak istri kita selama tinggal di Hungaria nanti. Kalau pemasukan hanya dari uang beasiswa saja, tentu akan kurang, jadi dokumen ini bisa jadi penguat. Selain itu kita juga menunjukkan bank reference yang menjelaskan bahwa kita memiliki tabungan yang cukup. Untuk bank reference kemarin saya melampirkan dua, satu atas nama istri dari bank di Indonesia, dan satu atas nama saya dari bank di Hungaria. Tidak ada minimal nominal pasti, yang jelas semakin besar semakin baik.

Kemudian siapkan juga paspor yang kadaluwarsanya lebih dari 6 bulan. Kalau kurang dari 6 bulan, mending perpanjang dulu deh. Siapkan juga Letter of Award dari pemberi beasiswa (TPF) dan Letter of Admission dari kampus untuk jaga-jaga. Untuk kontrak flat, pastikan nama kita tertulis sebagai penyewanya. Kalau bisa masukan juga nama anak dan istri dalam kontrak sewa flat. Tapi kalau tidak, mintakan surat pernyataan dari landlord (pemilik flat) bahwa dia memberikan izin kepada anak dan istri kita (sebutkan namanya) untuk tinggal di flat tersebut. Dalam kasus saya kemarin, nama istri dan anak tidak tercantum dalam kontrak, tapi ada di surat pernyataan.

Untuk invitation letter, ini ada banyak versi memang. Ada yang mengatakan kita harus mengurus ke kantor imigrasi di Hungaria untuk dibuatkan invitation letter secara resmi, ada juga yang mengatakan kita bisa buat sendiri. Kalau kasus saya kemarin saya buat sendiri. Jadi hanya membuat surat yang intinya mengundang istri dan anak saya untuk tinggal bersama saya di Hungaria dan menyatakan bahwa seluruh biaya hidup mereka kita tanggung. Dan dengan surat itu oke-oke saja.

Untuk tiket kita bisa beli online. Tapi untuk ngurus visa kita tidak perlu tiket asli, cukup bookingannya saja, yang penting ada tanggal keberangkatannya kapan. Saya kemarin pakai jasa travel agent. Alternatifnya bisa pakai booking.com. untuk asuransi perjalanan, saya pakai Sinarmas yang paket basic visa Schengen, dan setahu saya ini yang paling murah dibanding asuransi perjalanan yang lain. Asuransi ini bisa dibeli di aplikasi Traveloka, harganya 250 ribuan. Beberapa teman juga menyertakan asuransi kesehatan untuk anak istri selama satu bulan pertama tinggal di Hungaria dari asuransi di Hungaria. Tapi dalam kasus saya, saya ga melampirkan itu dan oke-oke saja.

Untuk prosesnya, setelah semua dokumen kita lengkap, kita tinggal membuat janji melalui email dengan kedutaan besar Hungaria di Indonesia untuk wawancara visa. Mereka akan memberikan opsi tanggal dan kita bisa menentukan. Jika tanggal dan jam sudah disepakati, istri tinggal datang ke Jakarta sesuai waktu yang ditentukan dengan membawa semua dokumen yang dipersyaratkan. Anak di bawah 6 tahun tidak perlu ikut hadir ke Jakarta. Wawancara berlangsung cukup santai kok, pewawancaranya juga bisa bahasa Indonesia. Jadi bagi keluarga yang tidak bisa bahasa Inggris, tenang saja. Yang ditanya seputar rencana nanti selama tinggal di Hungaria, misal: mau kerja ga? Mau punya anak lagi ga? Kalau ada anak, anaknya mau sekolah ga? Kita tinggal jawab saja sesuai keadaan diri masing-masing. Selesai wawancara, kita diminta untuk membayar. Pokoknya kemarin kalau dirupihakan, untuk visa anak dan istri kita bayar 3,6 juta, itu sudah termasuk ongkos kirim visa ke alamat rumah kita.

Setelah dua minggu dari wawancara, istri dapat kabar bahwa visa sudah disetujui dan sedang dikirim ke rumah. Besoknya visa langsung nyampai di rumah. Setelah itu tinggal pesen tiket yang fix untuk berangkat ke Hungaria. Kemarin istri sudah dapat harga tiket yang normal, untuk istri dan anak kemarin kena 14 jutaan, dari Jakarta ke Budapest pakai Qatar. Kenapa pakai Qatar? Ini yang paling direkomendasikan kedutaan dan tidak butuh tes PCR. Setelah sampai di Budapest, istri diminta mengisi form Kesehatan dan pernyataan karantina mandiri. Setelah 10 hari menjalani karantina mandiri, barulah kita bisa bebas mengeksplorasi kota Budapest.

Alasan Mengapa Saya Kuliah di Hungaria

Pemandangan Kota Budapest

Pertanyaan ini banyak ditanyakan oleh rekan kerja saya di Indonesia, maupun rekan di Hungaria. Mengapa memilih Hungaria? Dan selalu jawab dengan jujur, karena hanya Hungaria yang mau menerima dan memberi beasiswa kepada saya. Jadi bisa dibilang, saya tidak memilih Hungaria, tapi Hungaria yang memilih saya. Saya selalu punya prinsip, coba semua peluang, namun kesempatan pertama yang muncul itulah yang akan saya ambil. Seperti itu pula pengambilan keputusan yang saya lakukan ketika memilih tempat kuliah S1, S2, dan juga tempat kerja (dan jodoh?). Bisa jadi itu bukan keputusan terbaik karena saya belum melihat kesempatan yang lain, tapi setidaknya ini keputusan yang paling aman dan memberikan paling sedikit penyesalan di kemudian hari.

Hungaria memang bukan destinasi favorit untuk melanjutkan studi kalau dibandingkan dengan negara lain seperti Amerika, Inggris, Australia, atau Belanda. Rangking universitas di Hungaria juga tidak terlalu tinggi, dan nominal beasiswa yang diberikan juga tidak terlalu besar. Namun bagi saya, tidak terlalu penting dimana saya belajar, toh ketika sudah selesai nanti, gelarnya juga sama saja. Saya juga tidak butuh lagi membuat personal branding berlebihan, karena mau bagaimanapun setelah lulus nanti saya tidak ada pilihan lain selain Kembali mengabdi di UMM. Jadi ya pragmatis saja, yang penting lulus S3 di luar negeri. Kalau soal kompetensi, saya yakin itu tidak ditentukan oleh universitas, tapi oleh kita sendiri dan support dari supervisor kita. Dan yang saya tahu, supervisor saya memanglah ahli di bidang yang sedang saya tekuni. Jadi secara subjektif, kuliah di Hungaria ini sudah lebih dari cukup buat saya. Tapi, ada beberapa alasan objektif yang bisa dijadikan pertimbangan juga mengapa kuliah di Hungaria ini layak untuk dijadikan pilihan utama. Beberapa alasan itu adalah sebagai berikut:

Biaya hidup yang murah

Untuk ukuran negara Eropa, biaya hidup di Hungaria terbilang cukup murah jika dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Biaya hidup yang dikeluarkan tentu saja tergantung dari gaya hidup dan di kota mana kita tinggal. Tapi untuk biaya hidup di Budapest (ibu kota Hungaria) sendiri, tidak berbeda jauh dengan biaya hidup di Jakarta. Untuk kota lain, tentu biaya hidupnya lebih murah. Jadi dengan uang beasiswa yang sebenarnya terbilang kecil, kita masih bisa hidup dengan layak lah di Hungaria. Untuk gambaran biaya hidup di Hungaria, bisa melihat tulisan saya berikut (klik di sini)

Mutu Pendidikan yang berkualitas

Program studi yang paling popular di Hungaria adalah kedokteran, kedokteran gigi, dan kedokteran hewan. Gelar yang diperoleh diakui oleh WHO dan universitas lainnya di Eropa. Program studi lain yang ditawarkan juga cukup lengkap, mulai dari Psikologi, Pendidikan, MIPA, teknik, humaniora, dll. Selain itu universitas-universitas di Hungaria mengikuti sistem aturan Bologna Process yang berarti universitas di Hongaria bisa memberikan gelar Bachelor, Master dan Phd kalau persyaratan-persyaratan sudah dipenuhi. Ini juga berarti gelar yang sudah didapat di universitas di Hungaria mendapat pengakuan dan dipakai untuk melanjutkan pendidikan di negara-negara Uni Eropa lainnya. Ada beberapa universitas bergengsi di Hungaria yang masuk dalam pemeringkatan THE atau QS di antaranya Eotvos Lorand University (ELTE), University of Semmelweis, Central European University, University of Debrecen, Szeged University, dan Corvinus University of Budapest.

Lokasi strategis dan pemandangan indah

Hungaria terletak di jantung Eropa, sehingga mau ke negara mana-mana di Eropa cukup dekat. Hungaria juga masuk dalam Uni Eropa, sehingga residence permit kita valid digunakan untuk traveling ke negara Uni Eropa lainnya tanpa perlu mengurus visa lagi. Selain itu, Hungaria sendiri merupakan kota yang sangat indah, yang dihiasi oleh bangunan-bangunan historis dengan sentuhan arsitektur yang sangat menawan contohnya St Stephen’s Basilica, Buda Castle, Fisherman’s Bastion, dan Parliament House. Tidak heran kalau Hungaria jadi destinasi wisata terkenal di Eropa.

Menggunakan Bahasa Inggris dalam perkuliahan

Di Hungaria, Sebagian besar orang memang menggunakan bahasa Magyar (bahasa Hungaria) dalam percakapan sehari-hari, dan yang mampu berbahasa Inggris tidak terlalu banyak. Tapi jangan khawatir, untuk perkuliahan banyak sekali program yang menawarkan dalam bahasa Inggris. Tidak ada kewajiban harus menguasai bahasa Hungaria juga bagi penerima beasiswa PhD, namun bagi penerima beasiswa bachelor dan master, mereka wajib mengikuti kelas bahasa Hungaria pada tahun pertama. Tapi tenang saja, kelas ini tidak menentukan keberlanjutan beasiswa kita kok. Artinya kalaupun kita tidak lulus, kita tetap dapat beasiswa, namun dengan pemotongan untuk semester 2.

Keragaman budaya untuk pelajar internasional

Tiap tahun, pemerintah Hungaria memberikan beasiswa kepada lebih dari 4500 orang dari 70 negara untuk berkuliah gratis di Hungaria (untuk beasiswa Stipendium Hungaricum lihat di sini). Tentu saja ini jumlah yang sangat besar. Jadi tiap tahun ada ribuan pelajar internasional baru hadir di Hungaria. Belajar di Hungaria tentu saja bukan hanya belajar akademik saja, tapi juga belajar kehidupan tentang keragaman budaya dan toleransi. Kita bisa memperluas jaringan pertemanan dan belajar mengenai kehidupan mancanegara dari teman-teman kita dari negara lain.

Nah itu tadi beberapa alasan yang bisa dijadikan alasan kuliah di Hungaria. Selain alasan akademik, alasan non-akademik juga bisa menjadi pertimbangan. Hungaria juga negara yang aman dan maju, sehingga banyak hal yang bisa kita pelajari. Terlepas dari itu, belajar di luar negeri tentu memiliki tantangan sendiri mulai dari perbedaan cuaca, makanan, jauh dari keluarga, kesulitan bahasa, perbedaan budaya, dll. Hal ini yang akan membuat kita lebih kuat, tidak hanya secara akademik, namun juga mental kita dalam menghadapi perubahan dan tantangan. Itu yang tidak bisa didapatkan dari kuliah di dalam negeri.